Home

Ketik di sini untuk pencarian

Memuat...

Kamis, 17 Maret 2011

TANPA MENJADI

TANPA MENJADI


Bila Aku membaca Tripitaka dan aku suka.
Haruskah aku beragama Budha?
Bila aku membaca Weda dan aku suka.
Haruskah aku beragama Hindu
Bila aku membaca Al’Quran dan aku suka.
Haruskah aku beragama Islam
Bila aku membaca injil dan aku suka.
Haruskah aku beragama Kristen.

Bila Aku membaca Tripitaka dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Budha?
Bila aku membaca Weda dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Khrisna?
Bila aku membaca Al’Quran dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Muhammad dan peleceh Islam
Bila aku membaca injil dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Yesus.

Aku mengenal Yesus dari orang tuaku yang hingga akhir hayatnya beribadat dengan cara Khatolik. Aku baca injil dengan akal dan minatku tanpa paksaan dari orang tuaku. bahkan ketika hari minggu orang tuaku ke gereja aku sering tidak ikut. Setahun sekali aku ke gereja untuk bertemu dengan orang-orang yang aku kenal dan menjadi temanku. Aku memahami Yesus dengan caraku sendiri. Aku terlepas dari doktrin yang diberikan oleh Pendeta dan Pastor tentang Yesus.

Aku hidup di lingkungan yang 99,999% beragama Islam tapi aku tidak ingin memeluk Islam secara hurufiah sebagai agamaku.

Setelah dewasa aku menikah dengan cewek dengan KTP beragama Islam. Birokrasi pemerintah ingin menentukan bahkan mengharuskan aku merubah KTP ku dengan mengisi kolom agama diisian dengan Islam.
Itu bukan kehendakku mereka yang memaksa padahal wanita yang mau menjadi istriku meskipun aku tidak beragama islam.
Tidak salah bukan bila aku tidak mengimani Islam seperti kakekku yang rela menyisihkan kekayaannya untuk bertamsya ke Mekah, untuk mendapatkan Predikat dan Sebutan Haji sebagai pemenuhan peribadatan agamanya dengan iming-iming masuk surga. Tetapi kakekku tidak mengijinkan anak dan cucunya memangilnya ABBA dan tetap ingin di panggil bapak dan mbah karena, ABBA itu artinya BAPAK. Kakekku tidak menjadi ke arab-araban meskipun telah menunaikan Ibadah Haji.

Dari waktu ke waktu aku mencoba memahami, ternyata aku lebih suka dengan ajaran falsafah dan kebudayaan warisan leluhurku, kakek dan nenek moyangku yang Jawa. Tradisi yang ada sebelum agama-agama dari mancanegara berdatangan ke Tanah Jawa. Yang dianggap salah oleh pemeluk dan yang menjadi umat agama-agama manca, karena dianggap tidak menyembah (yang mereka sebut dengan Allah), tetapi nenek moyang menyebutnya Sang pencipta yang memberi hidup dan menghidupkan.

"Gusti Hingkang Akaryo Jagad. Gusti Hingkang Aparing Gesang lan Anggesangaken”

Falsafah dan Kebudayaan yang tersisih dari tempat di mana berasal. Biarlah hanya aku dan beberapa orang yang terus melestarikan. Meski mereka menganggap Salah.

Aku bangga dengan tokoh (meski mungkin hanya tokoh rekaan) yaitu Ki Lurah Semar yang oleh Ayu Utami ditulis dalam Artikelnya “Semar Pernah Mejadi Ratu” di http://www.ayuutami.com. Semar sebagai tokoh Wayang yang berasal dari budaya lokal dan kebijaksanaan lokal sebagai pemomong Pandawa yang di adobsi dari Mahabarata dari India

YESUS FAKTA ATAU FIKTIF

YESUS FAKTA ATAU FIKTIF


YESUS….

Sebenarnya siapa sich Dia? Namanya begitu besar. Terkenal di hampir seluruh pelosok dunia. Terkenal karena banyak yang memuji dan menyembahnya, serta banyak juga yang membenci juga menghujatnya. Yesus itu nyata apa tidak ya? Mungkin Yesus itu hanya mitos, legenda atau bahkan hanya tokoh rekaannya : Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, Barnabas. Bahkan yang sekarang bermunculan nama-nama Maria Magdalena, Tomas, Naskah Nah Mahdi sebagai penulis injil. Sehingga mungkin perlu ditulis peringatan di halaman belakang kitab para penulis seperti pada akhir cerita sebuah sinetron indonesia

“Cerita ini hanya fiktif apabila ada nama pelaku dan tempat kejadian yang sama itu hanya kebetulan dan bukan unsur kesengajaan”

Tapi anehnya, mengapa mereka membuat dan memilih cerita fiktif dengan tokoh yang sama yaitu Yesus? Begitu bombastikah nama Yesus dari Pengarang Cerita yang pertama mengisahkan cerita tentang Yesus ini sehingga memberikan imajinasi dan inspirasi bagi penulis yang lain.

Bahkan penulis Injil Barnabas juga terimajinasi dan terinspirasi membuat cerita (fiksi juga tentunya apabila injil atau cerita tentang Yesus dianggap tidak nyata) dengan tokoh yang bernama Yesus juga. He..he..Mungkin untuk mendapatkan popularitas dari pembaca juga seperti popularitas yang telah diperoleh oleh penulis yang lebih dulu memunculkan kisah tentang Yesus dengan kisah yang berbeda. Sebuah cerita fiktif yang berhasil. Bila ada dijaman sekarang Penulisnya tentu sudah menjadi milyader karena sudah beredar trilyulnan copy. Atau semua itu hanyalah perjalan politik spiritual untuk dapat menjaring umat sehingga mampu memunculkan pro dan kontra, pemuja dan penghujat untuk memperebutkan suatu kata yang menunjuk suatu tempat yaitu Surga.


Khabar Gembira begitu Ibuku memberikan difinisi.

Kegembiraan seperti apakah?…..

Kegembiraan karena datangnya sang juru slamat dunia ?

Frase ini tentunya bermakna ambigu, alias tergantung bagaimana orang menerjemahkan dan mengartikan. Keselamatan seperti apa yang diberikan Yesus sementara Dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri ketika hendak ditangkap.

Matius 26:52-54

52. Maka kata Yesus kepadanya: “Masukan pedang itu kembali kedalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. 53 Atau kau sangka, bahwa aku tidak dapat berseru kepada Bapaku, supaya Ia segera mengirim lebih dari duabelas pasukan malaikat membantu Aku? 54. Jika begitu bagaimana akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

Yesus diolok-olokan

Matius 27 :27-31, Markus :16-20, Yohanes 19:2-3

Selanjutnya Matius 27:41

41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli taurat dan tua-tua mengolok-ngolok Dia dan mereka berkata: 42 “Orang lain ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. 43 Ia menaruh harapanya kepada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah anak Allah.”

Ayat yang lain : Markus 15:29-32, Lukas23:35-38

Bila Kisah tentang Yesus ini memang nyata dan pada saat itu saja sudah banyak orang yang tidak percaya, mengapa mau-maunya orang menjadi Kristen dan percaya kepada kata-kata bahwa, Yesus adalah Sang Juru Selamat Dunia.

Yesus anak Allah.

Tuhan Menciptakan manusia, Tuhan meniupkan rohnya dalam nafas dan hidup manusia.

Apa yang berasal dari daging itu daging (jasmani). Apa yang berasal dari roh itu roh. Yesus adalah Anak Allah itu dilihat dari rohnya dan ketaatanya secara jasmani dan rohani untuk mengemban misi yaitu menyelamatkan dunia.

Roh Tuhan ditiupkan kepada semua yang disebut manusia dan roh itulah yang menjadikan manusia berafas dan hidup. karena itu Yesus mengatakan: Allah itu Allahnya orang hidup bukan Allahnya orang mati. Untuk itu Yesus mengajarkan agar kita hidup menurut roh karena roh itulah yang berasal dari Allah dan disebut anak Allah. Daging berasal dari dunia karena itulah keinginan duniawi adalah keserakahan, kekuasan dan tipu daya. Agamapun dapat dijadikan untuk mengejar dan memenuhi keserakahan, kekuasan dan tipu daya. Seperti yang dilakukan oleh Tua-tua dan ahli-ahli taurat Yahudi pada jaman Yesus dan membiarkan umat dan rakyat yahudi waktu itu dalam ketertindasan. Mereka tetap enjoi dan mendapatkan berbagai keuntungan.

Hal yang demikian terus turun temurun dan meregenerasi sampai sekarang. Agama di jadikan motor yang dapat di tunggangi ,bahkan ayat-ayat kiab suci dijadikan dalih dan alasan untuk membenarkan diri sendiri dan golongannya.

Itulah penjajahan yang terus berlangsung samapai saat ini. Sesuatu yang berbeda dianggab sesat. Yesus pun dianggab sesat oleh imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli taurat dan tua-tua, karena Yesus dianggap ancaman bagi kenikmatan dunia yang diperolenya. Karena itu berliindunglah mereka dibawah hukum taurat menurut prepestif dan kajian mereka.

Keselamatan seperti apa yang diberikan Yesus?

Apakah dari mukjizatnya?

Aku pempercayai Yesus bukan karena MujizatNya karena yang jelas aku tak akan melihat Muhjizat Yesus. Karena seperti yang di tulis dalam injil "Kamu percaya kepadaku karena melihat muhjizat". Bahkan para penganiaya Yesus masih meminta bukti pada saat menyalibkan Yesus. Bagiku mukjizat Yesus adalah NAFAS dan HIDUPKU yaitu ROH YANG DITIUPKAN TUHAN adalah roh yang sama dengan yang ditiupkan Tuhan kepada Yesus yaitu ANAKNYA YANG TUNGGAL karena Tuhan tidaklah meniupkan dua Roh kepada satu manusia

Kepercayaan kepada Yesus hanya karena mukjizat tak ada bedanya dengan kepercayaan dan kekaguman kepada tukang sulap. (Di tanah Jawa banyak hal-hal yang aneh terjadi. Seperti cerita Ki Ageng Selo menahklukan Petir. Bandung Bondowoso mampu membangun Candi Sewu dalam waktu semalam. Kisah Gunung Tangkuban Perahu dan lain-lain.)

Kepercayaan kepada Yesus harus didasarkan keteladannya, ketulusannya dalam cinta dan kasih juga pengorbanan.

Bila setiap individu sudah mampu meneladani Yesus damai dan selamatlah dunia ini.


AL Quran
Koran dalam Bahasa Indonesia tentulah berasal dari bahasa Arab = Quran yang di adobsi dan mengalami penyesuaian ejaan yang mungkin didasarkan pada EYD. Yang kurang lebih memiliki arti yang sama Khabar.

Baik Injil maupun Al quran adalah sebuah kabar tentang :

Perjalanan hidup seseorang yang akhirnya tokoh yang dikhabarkan memiliki pemuja dari lingkungannya masing-masing hingga berkembang ke manca negara.

Aku turut membaca khabar dari Israel yang lebih berkembang di Roma itu. Aku juga sedikit membaca Khabar dari Arab itu.

Tetapi aku tidak mengkultuskanya sehingga bila ada ada yang saling menghujat dan membakar kitab seperti yang terjadi di Amrik sana aku ga perlu merasa sakit hati dan kebakaran jenggot.

Injil di Rumahku setelah aku baca tapi lupa mengembalikan ke tempatnya. Aku menaruhnya dekat lemari pakaian.Tahu-tahu banyak halaman yang rusak karena dimakan rayap dan akhirnya aku bakar.

BACA JUGA HALAMAN

SIAPA PENULISNYA

SIAPA PENULISNYA
Kitab Suci=Buku Suci
Apanya yang suci?
Wujudnya kah?

Bagiku sebuah kitab atau buku disebut suci atau dianggap suci karena isinya yang yang ditulis dengan niatan suci untuk menuntun pembacanya kepada arah kehidupan yang suci.

Membaca dan menganalisis Injil dan Al Quran berdasarkan pengetahuan dan ilmu sastra tentunya akan melihat dari sisi Intrinsik dan Ektrinsik
Unsur Intrisik
1. Tema,
2. Alur,
3. Penokohan,
4. Setting,
5. Amanat,
6. Sudut Pandang

Unsur Ektrinsik

Analisis Ekstrinsik akan melihat dari luar karya sastra dalam hal ini tentunya Injil dan Al Quran. Adapun unsur ekstrinsik meliputi: latar belakang pengarang, sosial, ekonomi, budaya pada saat karya itu ditulis.

Dalam tulisan ini akan menguraikan analisis Injil berdasarkan Sudut Pandang pengarang.
Adapun sudut pandang adalah: Pengarang sebagai orang pertama dan Pengarang sebagai orang ketiga.
Dalam Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) semuanya mengunakan sudut pandang orang ketiga yang artinya pengarang hanya sebagai pengamat dan membiarkan saja tokoh ceritanya berjalan dan berkembang sendiri.Penarang injil menceritakan apa yang dialami seperti apa yang dia lihat dan apa yang dia pahami, bahkan penulis Injil mengahiri ceritanya dengan membiarkan tokoh ceritanya terbunuh dan berakhir dengan kesedihan. Injil ditulis tentunya juga berdasarkan latar belakang pengarangnya, juga keadan sosial, ekonomi, budaya pada saat karya itu ditulis. Meskipun mungkin penulis menggunakan nama samaran alias bukan nama sebenarnya

Dalam Al Quran penulis cerita mengunakan sudut pandang orang pertama dengan menggunakan kata Aku. Sehingga Pengarang atau Penulis Al Quran dapat menjadi TUHAN dalam rangkaian ceritanya dengan menggunakan kata “Aku” yang ditekankan sehingga hampir semua kata-kata seolah-olah berasal dari Tuhan, dengan kata lain penulismya mengangkat dirinya menjadi Tuhan, dan menjadikan ceritanya adalah “Gedhebuuuuuk” sesuatu yang turun dari langit.

Jadi siapakah penulis Al Quran?
Tuhankah dia si Tuan Anymous ini?
Tuhankah dia si Mr X ini?
Atau mengaku-ngaku tuhan?
Siapakah Si Tuan Anymous Penulis Al Quran?
Siapakah Si Mr X Penulis Al Quran?

Memang Tuhan itu sesuatu yang tidak nampak oleh mata karena bersifat roh.
APA YA, AL QURAN JATUH GEDHEBHUUUUK DARI LANGIT?

Muhjizatkah ?

Sementara nabi-nabi israel mengalami pergulatan dalam memperoleh Wahyu dan semuanya di alaminya sebagai pengalaman individu dalam suasana kesendirian atau malah mungkin dalam keheningan yang khusuk. Sedangkan penulis cerita hanya sebagai pencerita bukan sebagai Aku seperti Si Tuan Anymous Penulis Al Quran.

Yang dialami Yakub dalam kitab kejadian.
Disini penulis menggunakan sudut pandang orang ke tiga. Penulis hanya menceritakan, penulis tidak terlibat dalam kejadian.

Yakub yang ketika dia sedang berbaring, seorang lelaki mendatangi dia dan bergulatlah mereka hingga pagi. Menjelang fajar, lelaki itu memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga ia terpelecok, Maka Yakub meminta lelaki itu memberkati dia sebelum pergi karena hari telah pagi.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu kepada Yakub
“Yakub”
“Sejak sekarang namamu adalah Israel.”
Yakub balik bertanya. “Katakan juga siapa namamu”
Yang ditanya menyahut. “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Setelah itu ia memberkati Yakub. Orang itu pergi tanpa menyebutkan namanya.
Yakub merumuskan, “Aku telah melihat Allah, muka dengan muka, tapi nyawaku diselamatkan.

Melihat kontek Allah dalam pengalaman dan Rumusan Yakub, apakah sama dengan Allah dalam dalam rumusan Yesus yang menyatakan dirinya sebagai Anak Allah dalam Injil?
Apakah Allah yang sama dengan rumusan penulis Al Quran yang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam penulisan ceritanya?
Yang Menjadikan dirinya Allah dengan menekankan kata aku dalam penulisan ceritanya?
Yaitu Si Tuan Animous. Yaitu Si Mr X

Hey..Hey Siapa dia?

Bila dalam blog seperti : http://vilaputih.wordpress.com/,
http://filarbiru.wordpress.com/, http://haniifah.wordpress.com
mempertanyakan dan mempersoalkan keimanan orang kristen yang mengakui bahwa, Yesus sebagai Nabinya yang menganggap Anak Allah, dengan kitabnya Injil. Kenapa mereka tidak bertanya dan mempersoalkan Hey..Hey..Siapa Dia Situan Anymous? Yang menulis Al Quran dan mendoktrin Mohammad yang tidak dapat membaca.
Bacalah…Bacalah…dan bacalah….

Hal ini berbeda dengan aku.

Sebab Aku Orang Merdeka.

Kenapa?

Hukum Taurat tidak berlaku bagiku
Hukum Injil Tidak berlaku bagiku
Hukum Al Quran tidak berlaku bagiku.
Hukum Weda tidak berlaku bagiku
Hukum Tripitaka tidak berlaku bagiku,
sebab aku bukan hamba dari salah satunya.

Hukum dan kitabku adalah hati nurani.
Apakah perbuatan baik akan bertentangan dengan hukum. Hukum Tidak akan membatasi, dan melarang manusia berbuat baik. Demkian juga dengan hukum Tuhan, Hukum Alam, Hukum Adat. Sebab memang semestinya hukum itu diciptakan untuk kebaikan manusia, alam, lingkungan agar senantiasa aman dan damai dengan demikian selamatlah manusia, alam dari kehancuran.

Tuhan memang tidak beranak kayak Manusia, kambing, apalagi bertelur kayak itik, bebek, juga mentok.
Hanya Adam yang diciptakan Tuhan lewat sabda atau firman.
Karena yang selanjutnya daging adalah daging, (daging berwujud ketikan bapak dan ibu bersenggama sehingga sel jantan bersatu dengna sel telur tapi kehidupan berasal dari Roh yang ditiupkan Allah. Karena itu Roh adalah Roh.
Daging tanpa Roh adalah mayat. Roh tanpa daging tetaplah Roh.

Bila apa yang diajarkan Yesus dianggap penyelewengan akan hukum dan kitab-kitab dan nabi nabi sebelumnya. Mungkin memang seperti itu secara hurufiah. Tetapi Yesuslah yang menguak metafora yang diajarkan oleh para nabi sebelumnya. Sehingga Paulus berani mengatakan dalam suratnya kepada umat di Roma HUKUM TAURAT DAN SUNAT TIDAK MENYELAMATKAN ORANG YAHUDI

UNTUK YANG SENANG MENGATAKAN BAHWA YESUS MENYELEWENGKAN AJARAN PARA NABI, DAN MENGANGGAP DIRINYA PALING BENAR
BACA SURAT PAULUS KEPADA ROMA
E….BACANYA YANG BENER YA. NGGAK USAH KEBURU-BURU NGGAK ADA YANG MAU NGREBUTKOK. LAGIAN KALAU KEBURU-BURU ENGGAK ENAK KOK. ENTAR KAYAK ORANG EJAKULASI DINI HE…HE…HE…

Untuk Yang mengatakan bahwa penulis injil adalah plagiator. Tuh masih mending yang di plagiat milik seniornya yang se bangsa dan se tanah Air.

Paling Ga Lucu You yang benci ama Yahudi Bin Israel memplagiat tulisan dari bangsa yang kamu benci. Anymous lagi.

Yang lebih parah si tuan Anymous atau si Mr X ini mengaku tuhan dengan menekankan kata aku pada setiap tindakan dan penyampaian wahyu sehingga menjadikan seolah-olah perkataan itulah wahyu dari tuhan lalu mengatakan bahwa yang diajarkan Yesus adalah penyelewengan. (Ternyata Tuhan Arab pandai berpolitik juga untuk memperoleh kehormatannya). Apakah hal ini ada karena dari waktu kewaktu keturunan Ishak memang memiliki kenyataan yang lebih daripada keturuan Ismael.

Abraham mengusir Hagar dan Ismael
Kitab Kejadian 21:8-21
8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu gagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 10 berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.’’ 11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham:
"Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadama, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dan Ishak. 13 Terapi keturunan dan hambamu itu juga akan Kubuatr menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”
14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang garan bersyeba. 5 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati.’’ Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
17 Allah medengar suara anak itu. lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, KataNya kepadanya:
‘‘Apakah yang engkau susahkan, Hagar? janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak dari tempat ia terbaring. 18 Bangnnlah. angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. "19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirhatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21 Maka tinggallah in di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Apa yang diinginkan dan Sarah adalah keinginan seorang ibu agar anaknya mendapatkan warisan dan kemulyaan duniawi. (Yang akhirnya dalam injil disebut keinginan daging). Sara takut bila Ismail bertambah besar dan menjadi Pewaris, Hagar akan semakin merendahkan dirinya. Abraham secara manusiawi pasti sangat ingin menolak keinginan Sara, tetapi seperti dalam cerita, Allah menyetujui permintaan Sara.



Bacalah!!!!!
Aku tidak bisa Membaca
Bacalah!!!!!
Kutipan di bawah ini!!!!!
Dikutib dari Novel “BILANGAN FU” karya Ayu Utami

KRITIK HU ATAS MONOTEISME
[CATATAN-CATATAN PENDEK DARI buku harian Parang Jati]

Saya tulis ini setelah rumah Pak Lamardi dilempari batu hingga berantakan. Ia dan keluarganya mengungsi ke tempat kami. Itu adalah kali pertama saya mendengar serangan terhadap orang Ahmadiyah.
Setelah prihatin, reaksi pertama saya adalah bertanya-tanya.
Kenapa monoteisme begitu tidak tahan pada perbedaan?
Kecenderungan ini begitu kuat pada agama-agama Semit, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Selain tampak pada perilaku para penganutnya, terdapat pula dalil-dalil yang membenarkan hujatan dan tindakan untuk meniadakan yang lain. Perilaku para penganut selalu bisa dipolitisir. Tapi bahwa ada dalil-dalil yang mendasari sikap anti terhadap nilai lain (“anti-liyan”), itu saya kira harus diakui sebagai persoalan mendasar monoteisme. Kita harus berani mengakui bahwa monoteisme berkehendak memonopoli kebenaran, dan tak tahan pada kebenaran-kebenaran lain.
Kehadiran dalil-dalil “anti-liyan” sangat mencolok dalam monoteisme, terutama jika dibandingkan dengan agama-agama timur. Yakni, agama-agama yang muncul di benua Asia Tengah ke Timur, seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Shinto, dan agama-agama lokal di wilayah ini. Agama-agama ini memiliki sistem yang sangat berbeda dan monoteisme, yang sangat sulit dimengerti oleh kaum monoteis medok.
Dan perbedaan mendasar itu, rupa-rupanya, terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing. Agama-agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. Konsep ini ada dalam kata sunyi, sunyat, shunya. Konsep ini ada pada bilangan nol.
Sebaliknya, monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah SATU.
Persoalannya, sesungguhnya ada pertanyaan besar: apakah ketika mereka merumuskan itu manusia sudah menemukan bilangan nol? Apakah konsep nol sudah ada ketika manusia mencatat wahyu bahwa tuhan itu satu?
Saya kira perkara ini menjadi sangat penting. Sebab, tanpa ada bilangan nol, tanpa ada pengertian mengenai nol, ceritanya menjadi sangat lain. Bilangan satu yang dirumuskan dengan perbandingan terhadap nol sangat berbeda nilainya dan yang dirumuskan tanpa perbandingan dengan nol.

SEJARAH BILANGAN NOL
(diringkas daRI buku Misteri Bilangan, karangan Ninkaou Niala Kram.)

I

LEGENDA TENTANG SUNGAI YANG BERHENTI MENGALIR DI HARI SABBAT
Nun di sebuah tempat di India, ada sbuah sungai bernama Sabbaton. Di seberangnya menetap SEPULUH SUKU ISRAEL YANG HILANG dan akhir Masa Pembuangan di abad ke-6 sebelum masehi. Konon, sampai sekarang (yakni sampai legenda mi diceritakan) kesepuluh suku Israel itu masih tinggal di sana. Sungai ini diberi nama Sabbaton, sebab ia mengalir selarna enam hari saja. Pada hari Sabbat sungai ini berhenti mengalir.
Seorang musafir Yahudi bernama Manasseh ben Israel melakukan perjalanan ke India pada tahun 1630 dan melaporkan bahwa ia melihat sungai itu: yang mengangkut gelondong batu sebesar rumah di hari-hari kerja, namun kering dan licin bagai pasir putih di hari Sabbat. Sabbat adalah hari ketujuh. Hari, yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian, ketika Tuhan beristirahat dan mencipta kehidupan.
Adakah legenda ini bercerita mengenai kontak antara orang-orang Semit dengan orang-orang India?
Kita memiliki tanda-tandanya dalam kemiripan bunyi dan kata:
Sabbat adalah hari ketujuh dalam kalender Hibrani. Sapta adalah tujuh dalam bahasa Sansekerta.
Ehad, ahad, adalah satu dalam bahasa Hibrani dan Arab yang sama-sama berinduk Semit. Eka adalah satu dalam Sansekerta. Esa, dalam Tuhan yang Maha Esa.


II

Diduga, setelah kontak dengan bangsa Semit, orang-orang India menggunakan aksara Semit untuk menulis angka mereka.
Ketika itu bilangan nol belum ditemukan.
Demikian pula, posisi numerasi belum ditemukan. Posisi numerasi adalah cara menulis angka berdasarkan urutan nilai kelipatan sepuluh seperti yang kita kenal sekarang. Kita menganggapnya begitu gampang. Tapi tidak demikian sebelum orang menemukan posisi numerasi. Pada masa itu orang tidak menulis dua ribu delapan dengan “2008”, melainkan dengan “2 ribu 8” atau “2000 8”. Seperti MMVIII.


III

Orang India telah memiliki konsep filosofis mengenai kekosongan, ketiadaan, jauh sebelum masehi. Konsep itu ada pada kata shunya. Dan lambangnya adalah: shurzya-kha (yaitu spasi kosong), shunya-bindi (yaitu titik), shunya-chakra lingkaran, 0).
Inilah konsep yang kemudian berkembang menjadi bilangan 0. Bilangan yang ditemukan bersama ditemukannya posisi numerasi.


IV

Adalah seorang ahli perbintangan dan matematika India yang menulis dalam bahasa Sanskerta. Aryabhata namanya. Hidup di abad ke-5 masehi. Seperti Plato dikenal melalui Aristoteles, Aryabhata dikenal melalui komentatornya, Brahmagupta. Brahmagupta menulis kitab astronomi berjudul Brahmasputa Siddhanta, artinya “sistem Brahma yang direvisi”. Di sini, nol dan posisi numerasi telah dipraktikkan, namun belum terbukakan bagi dunia di luar India.
Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang dirumuskan bukan dalam mentalitas matematis, melainkan mentalitas metaforis.
Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang sekaligus memiliki properti nol. Inilah, saya rasa, yang dicari-cari Ayah melalui pendekatan dan lakunya yang sulit dimengerti dalam bilangan hu. Satu yang juga nol.

*

MONOTEISME MERUMUSKAN DIRI
Kitab agama Semit yang paling tua adalah Alkitab Hibrani. Kepada Musa-lah Tuhan pertama kali merumuskan dirinya secara eksplisit sebagai Tuhan yang satu. Satu-satunya Tuhan.
Beginilah berturut-turut Tuhan mewahyukan dirinya dalam Alkitab:

I

KITAB KEJADIAN (GENESJS)
Dalam buku pertama ini pertama kali Tuhan menyebut dirinya, yaitu ketika hendak menciptakan manusia, adalah dengan bentuk jamak. “Kita”. Berikutnya, bentuk jamak “Kita” dan bentuk tunggal “Aku” sama-sama digunakan.


II

Sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, setelah Menara Babel runtuh, tersebutlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai Abraham. Ia keturunan Sem. Sem adalah anak Nuh yang menutupi kelamin ayahnya ketika Nuh mabuk anggur sampai tentidur telanjang. Dua anak yang lain malah tertawa-tawa. Keturunan Sem, anak yang santun itu, disebut orang Semit, bangsa yang menjadi induk penganut monoteisme Semit.

Ketika itu mereka tinggal di Sumeria, di della sungai Eufrat dan Tigris, di sekitar wilayah Irak dan Kuwait sekarang.
Tersebutlah, Tuhan menyuruh Abraham meninggalkan kota Ur-Kasdim untuk pergi ke arah Barat Laut, ke tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Tuhan berjanji akan membuat keturunan Abraham tak terhitung seperti bintang di langit dan debu di tanah. Tibalah Abraham di Kanaan, yaitu wilayah Palestina dan Israel sekarang.
Di kitab ini—Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab—Tuhan belum merumuskan dirinya sebagai Tuhan yang Satu. Kepada Abraham, ia merumuskan dirinya sebagai “Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dan Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Atau, Tuhan dirumuskan sebagai “Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.”“Allah yang Mahakuasa.” Belum ada rumusan Tuhan yang Satu.

III

Abraham memiliki dua anak. Ismael dan Hagar. Ishak dan
Sarah. Diceritakan, anak-anak Ismael menetap di sebelah
Timur Mesir. Sementara itu, Ishak memiliki dua putra kembar:
Esau dan Yakub.
Esau bertubuh kekar serta berbulu. Ia juga gemar berburu. Sedangkan Yakub, lahirnya pun memegangi tumit Esau. Yakub adalah anak lelaki yang suka tinggal di kemah. Sang ayah menyukai Esau yang gagah. Sang ibu mencintai Yakub, si manis pemimpi.
Ketika Ishak sang bapa telah rabun dan hampir meninggal dunia, ia berniat memberikan berkat kesulungan pada Esau. Tapi istrinya mengelabui dia. Ia menghadirkan si bungsu Yakub, mengenakan padanya kulit domba sehingga tangannya terasa berbulu. Ishak pun memberikan hak kesulungan itu pada si bungsu.
Ketika Esau pulang dan berburu di padang, tahulah dia bahwa adiknya telah merebut berkat itu. Maka ia mendendam pada Yakub.
Cemas akan kemarahan abangnya, si bungsu melarikan diri ke MeSopotamia, yaitu di sekitar aliran Eufrat dan Tigris.
Kepada Yakub-lah Tuhan menampakkan diri lagi. Melalui mimpi yang istimewa. Dalam tidurnya, si manis pemimpi Yakub melihat tangga menuju langit. Tampak malaikat-malaikat naik turun di sana. Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai, “Akulah Tuhan, Allah Abraham dan Allah Ishak.” Belum ada rumusan eksplisit tentang keesaan Tuhan seperti kelak dalam wahyu kepada Musa.
Kali kedua Tuhan menampakkan diri lagi kepada Yakub dengan cara yang istimewa pula. Ketika ia sedang berbaring, seorang lelaki mendatangi dia dan bergulatlah mereka hingga pagi. Menjelang fajar, lelaki itu memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga ia terpelecok. Maka, Yakub meminta agar lelaki itu memberkati dia sebelum pergi karena hari telah pagi.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu kepada Yakub.
“Yakub.”
“Sejak sekarang namamu adalah Israel.”
Yakub balik bertanya. “Katakan juga siapa namamu.”
Yang ditanya menyahut. “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Setelah itu ia memberkati Yakub. Orang itu pergi tanpa menyebutkan namanya.
Yakub merumuskan, “Aku telah melihat Allah, muka dengan muka, tapi nyawaku diselamatkan.”
Di kitab ini juga belum ada rumusan tentang Tuhan yang Esa. Tetapi, telah muncul persoalan nama. Manusia ingin mengetahui nama tuhannya. Tapi Tuhan tak mau mengungkapkan namaNya. Persoalan inii akan hadir kembali dalam kisah Musa.

IV KITAB KELUARAN (EXODUS)

Dalam kitab kedua ini, Tuhan menggunakan kata “Aku” sepenuhnya.
Tuhan menampakkan diri kepada Musa. Sebelumnya, telah beberapa generasi lamanya Tuhan tak pernah mewahyukan diri.
Ketika itu keturunan Yakub telah menjadi bani Israel, yaitu orang Hibrani, yang oleh karena kelaparan di negerinya, pindah dan menumpang di Mesir. Tapi, setelah beberapa angkatan, akhirnya kaum imigran Hibrani ini diperbudak oleh para Firaun. Musa tampil sebagai pembebas bani Israel.
Pertama kali, Tuhan menampakkan diri dalam rupa api yang menyala pada semak duri. Ia memperkenalkan diriNya sebagai, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Tuhan mengutus Musa untuk meminta orang Israel bangkit dan pergi dan Mesir. Kembali ke K.anaan.
Bertanyalah Musa, “Jika orang Israel bertanya siapa nama Allah nenek-moyang Israel, bagaimana harus kujawab?”
Firman Tuhan, “Aku adalah Aku.”
Demikian, manusia ingin mengetahui nama tuhannya. Tuhan mengelak mengungkapkan itu. Barangkali, sebab Tuhan tak mau membiarkan dirlNya dipersepsikan berdasarkan kerangka pikir manusia. Pada masa itu Setiap allah di Mesir memiliki nama.
Tuhan menampakkan dirinya berulang kali kepada Musa.
Ketika akhirnya Musa telah membawa bani Israel keluar dan Mesir dan tiba di gunung Sinai, di puncaknya Tuhan memberi kepada Musa dua loh batu yang terkenal itu: Sepuluh Perintah Allah.
Perintah pertamanya berbunyi demikian: “Akulah Tuhan, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.”
Itulah rumusan eksplisit pertama monoteisme.
Sejak Sepuluh Perintah Allah diturunkan, secara sistematis monoteisme melarang allah-allah yang lain, Sejak itu Tuhan penuh kemarahan jika ada allah-allah lain. Sebelumnya, Tuhan tidak pernah menegasikan eksistensi tuhan lain. Sebelurn Musa, Tuhan merumuskan dirinya secara afirmatif atau positif. Semenjak Musa di gunung Sinai rumusan negatif digunakan. Yaitu, menegasikan yang lain.
Dengan cara baca yang lain: rumusan negatif ini justru menunjukkan posisi persaingan dengan allah-allah lain. Bagi saya, rumusan pertama di semak belukar (“Aku adalah Aku”) jauh lebih menggugah ketimbang rumusan di gunung Sinai (Jangan ada allah selain aku.”) Yang pertama bersifat pernyataan positif. Yang kedua bersifat perintah negatif.

V

Bagaimanapun, monoteisme pertama kali dirumuskan sebelum manusia mengenal bilangan nol.
Di Kanaan Israel menjadi kerajaan besar, yang mencapai puncaknya pada dua raja agung, Daud yang perkasa dan Salomon nan bijak. Setelah itu, kerajaan Israel pelan-pelan keropos.
Nenek-moyang Israel, Yakub, yaitu yang oleh Tuhan dinamai Israel, memiliki duabelas anak. Ya, 12. Keduabelas anak itu menjadi 12 suku Israel.
Ketika kota terakhir Israel dihancurkan oleh Asyiria, di abad ke-6 sebelum masehi, dan 12 suku itu tertinggal dua saja. Yaitu, suku Lewi dan suku Yehuda. Yang terakhir menjadi dasar kata Yahudi.
Sepuluh suku yang lain hilang. Mereka dikenang sebagai SEPULUH SUKU ISRAEL YANG HILANG. Mereka konon pergi ke India dan tinggal di seberang sungai Sabbaton. Yaitu, sungai yang hanya mengalir 6 hari dan beristirahat pada hari Sabbat.Sepuluh yang barangkali menjadi angka.
Dan pembacaan kembali atas dua kitab Monoteis tertua, Genesis dan Exodus—atau Kejadian dan Keluaran—ada beberapa hal yang saya catat:
Satu. Tuhan mengelak mengungkapkan nama.
Dua. Ia menggunakan deskripsi ke-maha-an.
Tiga. Ia menggunakan rumusan afirmatif/positif.
Empat. Ia menggunakan rumusan negatif.
Mengapa Tuhan mengelak mengungkapkan nama?
Sebab pada masa itu setiap allah memiliki nama. Demikian, allah- allah itu terjebak dalam kerangka pikir manusia. Penolakan atas nama adalah penolakan dan jebakan kerangka pikir manusia. Yang penting digaris bawahi: Tuhan mengelak diringkus ke dalam kerangka rasional.
(Tapi Ia juga bukan irasional. Sebab irasional adalah definisi yang dirumuskan berdasarkan kerangka rasional pula. Tuhan mengelak dan kerangka ini.)
*

Kembali pada perumusan dengan bilangan. Monoteisme dirumuskan sebelum bilangan no! dirumuskan
Pertanyaan: seandainya Musa mengenal konsep shunya, atau mengenal nol yang spiritual, akankah dia merumuskan Tuhan sebagai shunya? Yaitu yang kosong sekaligus penuh, tidak berupa, tidak berbatas, tidak berbanding dan maha?
Seandainya dulu bani Israel mengenal shunya, akankah Tuhan merumuskan dirinya sebagai shunya?
*

Penemuan nol adalah revolusi dalam pikiran manusia.
Ketika nol belum ditemukan, sesungguhnya hilangan tidaklah hanya matematis. Ketika nol belum ditemukan, manusia belum membedakan bilangan rasional maupun irasional, primer maupun riil. Ketika itu manusia belum menarik jarak antara dunia dan dirinya, yang obyektif dan yang subyektif. Manusia belum modern. Bumi belum berbentuk dan kosong.
Firman adalah puitis dan di dalamnya bilangan itu metaforis.
Masalahnya bermula ketika shunya menjadi bilangan nol. Shunya yang metaforis dan spiritual menjadi matematis dan rasional.
Bilangan nol dirumuskan kepada dunia monoteis pada abad ke-8. Lebih seabad setelah wahyu monoteis yang terakhir turun. Tapi, setelah itu mental matematis berkuasa atas bilangan. Orang tak bisa lagi melihat kualitas bilangan sebelum dia ditemukan. Yakni, kualitas puitis, metaforis, dan spiritualnya.
Maka mulailah manusia menerapkan yang puitis itu secara matematis, yang spiritual secara rasional. Tuhan, yang sejak dulu mengelak dinamai, kini diningkus ke dalam kerangka pikir manusia. Tuhan, yang mengelak dinamai, kini justru diringkus ke dalam angka.Tiada tempat lagi bagi misteri.
*

Pembacaan ulang tadi penting bagi saya untuk memahami Ayah.
Bilangan hu adalah jalan Ayah untuk mengembalikan dunia yang terbelah kepada dunia yang utuh.
Bilangan HU adalah cara Ayah untuk mengingatkan kembali bahwa rasio telah kelewat berkuasa. Demikian berkuasa ia sehingga bilangan “satu”—esa, yang sesungguhnya memiliki kualitas spiritual shunya—diringkus ke dalam satu yang matematis belaka. Bilangan 1 yang riil, primer, rasional, dan operasional.
Demikianlah mental kaum monoteis setelah dunia menjadi rasional. Tuhan menjadi seperti bilangan 1 yang riil, primer, rasional, operasional.
Bilangan hu adalah jalan Ayah agar manusia bisa melakukan retret, pengunduran diri dari rasionalitas, ke dalam sebuah jeda. Jeda yang memungkinkan mereka untuk mengenali kembali kualitas spiritual pada mental mereka. Melalui perenungan mengenai sebuah bilangan bernama hu. Yaitu, bilangan yang sekaligus memiliki properti nol dan satu. Bilangan mengenai yang esa dan shunya.

Senin, 19 April 2010

Menjadi Garam Dunia

Menjadi Garam Dunia
“Jadilah Garam Dunia”
Itulah kata-kaa yang di keluarkan Yesus kepada murid-muridnya.
Kata-kata yang sangat sederhana tetapi sangat sulit dilakukan
Hanya Garam
Masakan apapun tidak akan sedap tanpa garam (menjadikan rasa asin) he… he…he… padahal upilpun rasanya asin. Disaat kecil aku sudah merasakannya.
Apa artinya garam bila sudah tidak asin lagi?

Yesus menurutku selalu merealisasikanya dalam masa hidupnya hingga tewas disalib.
Mengasihi itulah kuncinya.

Muhammad merealisakannya salah satunya adalah kesabaran.
Dalam cerita Muhammad dihina, diludahi, tapi tetap berbesar hati.
Hingga suatu saat orang yang yang menghina dan meludainya jatuh sakit dan di kunjungi oleh Muhammad.
Apa yang terjadi selanjutnya….

Jadi…………..
“Hendaknya kamu melakukan 3 B yaitu Benar, Benar, dan Benar”
Apa itu ?
Benar dalam berfikir.
Benar dalam berbicara. Isinya menyangkut masalah kejujuran.
Benar dalam berbuat atau bertindak.

Apabila kita lakukan semua yang di contohkan oleh orang-orang bijak, kita tidak perlu berteriak-teriak untuk menyiarkan Injil, menyiarkan Al Quran. Tidak perlu menyinggung dalam berkhobah. Tidak perlu membesarkan urat leher dalam berdakwa, karena perbuatanlah yang akan di jadikan cermin.

Gajah mati tinggalkan gading, Macan mati tinggalkan belang, Manusia mati hendaknya meninggalkan….. Begitu kata Bimbo.

Komentar terhadap Artikel “Sampai kapan kita meringkuk nyaman dalam “Gua”?”

Yang pernah mengenyam pendidikan filsafat tentu tidak asing lagi dengan “Mitos Gua” dari Platon. [Oh ya, FYI, versi populer dari Mitos Gua Platon telah diadaptasi secara tersirat dalam Film “The Matrix”….]

Cerita klasik ini selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang baru pertama kali belajar fisafat. Platon, sang filsuf yang menyesali kematian Sokrates, gurunya, di tangan warga polisnya sendiri, mengundang kita untuk memeriksa, sejauh mana kita bersedia untuk keluar dari realitas sehari-hari.

===============
Ceritanya begini

Ada sebuah gua gelap di bawah tanah.
Di sana terdapat sejumlah tahanan yang terbelenggu sedemikian rupa sehingga mereka hanya mampu memandangi dinding gua.
Di belakang para tahanan ada api menyala.
Di antara api dan para tahanan, ada jalan di mana budak-budak berlalu-lalang sambil memikul karung, kendi, patung, dll.
Nah, cahaya api itu menyebabkan timbulnya bayangan benda-benda itu pada dinding gua.
Para tahanan menganggap bayang2 itu sebagai kenyataan/realitas sejati dan tidak ada realitas yang lain.

Lalu, suatu ketika, salah seorang tahanan berhasil melepaskan diri dari belenggu itu.
Sejak saat itu, ia mengerti bahwa pemandangan yang ia lihat selama ini hanyalah bayang-bayang dari berbagai benda yang dibawa para budak.
Ia pun keluar dari dalam gua….
Oh, di luar gua cahaya menyilaukan matanya….
Setelah ia terbiasa dengan kadar cahaya, ia akhirnya melihat pohon, sungai, gunung, rumah, dll.
Terakhir, ia mendongak ke atas langit dan mengetahui bahwa MATAHARI-lah yang menyinari segalanya!
Ia sangat senang mengetahui bahwa ia telah menemukan realitas yang sesungguhnya!

Dengan langkah antusias, ia bergegas ke dalam gua dan menceritakan pada tahanan2 yang lain.
“Kawan, apa yang selama ini kita lihat bukanlah realitas sebenarnya, tetapi hanya bayang-bayang saja…Realitas sesungguhnya ada di luar gua ini!”

Akan tetapi, apa yang terjadi?

Para tahanan yang lain tidak mempercayainya.
Mereka justru mengancam, jika saja mereka tidak terbelenggu, mereka akan membunuh siapa pun yang berniat keluar dari gua.

=============

Berikut pertanyaan reflektif yang bisa membantu:

Pertanyaan
Apakah aku merasa puas dengan dunia “apa-adanya” yang kujalani sehari-hari sebagai “realitas sejati”, sebagaimana para tahanan yang menolak untuk keluar dari common-sense?

Jawaban
Oh…. tentu saja aku merasa puas dengan dunia apa adanya dan menjalaninya sehari-hari sebagai realitas sejati. Aku menolak keluar dan menjadikan hal itu suatu yang sangat sakral. Apalagi bila di dalam gua tersebut menjanjikan memberi tempat yang nikmat dan menyenangkan untuk hidupku dan keluargaku.

Pertanyaan
Apakah aku masih meringkuk nyaman dalam gua yang gelap? Dan apakah aku akan mencemooh (atau bahkan berniat membunuh) orang-orang yang tengah berusaha dan berhasil keluar dari gua itu?

Jawaban
Akan ku cemooh, kumaki-maki, bahkan kuanggap sesat mereka yang berusaha keluar, karena mereka yang berusaha keluar berarti telah menghina yang memberi kenikmatan dan kesenangan. Bukan hanya berniat untuk membunuhnya, tetapi akan kubantai meraka.

Pertanyaan
Apakah aku masih bersikap skeptis terhadap Filsafat dengan berlindung nyaman di bawah ketiak dogma dan doktrin Agama seolah-olah “Bertanya ‘Mengapa’ merupakan penodaan agama dan pelecehan terhadap Allah”?

Jawaban
Mengapa kamu menganggap skiptis terhadap filsafat dengan berlindung di bawah ketiak dogma dan doktrin agama? Allah itu maha suci dan maha segalanya untuk apa kamu masih bertanya “mengapa”. Akulah sang pembela agama dari segala penghinaan. Akulah sang pembela Allah. Karena Agamalah aku menjadi kyai terkenal, aku menjadi Uskup, aku dipuji orang dan sekarang hidupku dalam kenikmatan. Mungkin kamu yang merasa iri sehingga, mengkritikku dengan filsafat.Selain dari itu haram hukumnya

Pertanyaan
Apakah aku masih berpandangan, “Filsafat secara otomatis menjadikan seseorang ateis”?

Apakah aku selama ini tertarik untuk sekadar menghafal ayat-ayat kitab suci dan doktrin2 agama?

Jawaban
Dengan Filsafat, itu penghujatan dan penghinaan terhadap agama. bukan hanya menjadi atheis, tapi sudah sangat sesat, itu dilaknat allah. neraka jahanam lah tempatnya.

Pasti. Karena dengan menghafal ayat-ayat kitab suci dan doktrin2 agama memberikan materi yang berlimpah bagiku

Tanggapan untuk Vedasastra’s Blog “Tuhan Injil Menciptakan Konflik, Sang Hyang Widhi Mengajarkan Damai”

Yesus membawa pemisahan Bagaimana mengikut Yesus
Matius 10:34-42
34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dan ayahnya, anak perempuan dan ibunya, menantu perempuan dan ibu mertuanya, 36 dan musuh onang ialah orang-orang seisi rumahnya.
37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dan padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dan padaKu, ia tidak Iayak bagiKu.
38 Barangsiapa tidak memikul satibna dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan rnemperolehnya.

40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menenin3a upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menenima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil mi, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dan padanya.”

Menurutku ayat ini sangat spiritual
37. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dan padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dan padaKu, ia tidak Iayak bagiKu
38. Mari kita sandingkan dengan (Matius 5.3) yang berbunyi “Berbahagialah orang yang miskin di had apan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Bila kita mau ikut : Yesus, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, Gusti Hingkang Akaryo Jagat, Gusti Hingkang Paring Gesang lan A Gesang aken. Siwa, Brahman, Wisnu, Khrisna, atau apapun orang menyebutnya dengan cara dan keyakinannya masing-masing. Sala satu cara yang bias ditempuh adalah (Matius 5.3)
Miskin dihadapan Allah karena semua yang kita milIki adalah milikNya
Yesus, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, Gusti Hingkang Akaryo Jagat, Gusti Hingkang Paring Gesang lan A Gesang aken. Siwa, Brahman, Wisnu, Khrisna semua yang Aku milIki adalah milikMu. Juga hidupku. Semua kuserahkan padamu Juga hidup dan matiku Yesus, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, Gusti Hingkang Akaryo Jagat, Gusti Hingkang Paring Gesang lan A Gesang aken. Siwa, Brahman, Wisnu, Khrisna. Pada saat berdoa, sembahyang sholat mestinya kita lupakan apa yang kita kasihi . Matius 10.34-38 harus berlaku. Kita harus terpisah karena ditebas oleh pedang Yesus, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, Gusti Hingkang Akaryo Jagat, Gusti Hingkang Paring Gesang lan A Gesang aken. Siwa, Brahman, Wisnu, Khrisna
Hal berdoa ( Matius 6:5-8)
5 “Dan apabila kamu berdoa, janganIah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada likungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tensembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
7. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, kanena Bapamu mengetahui apa yang kamu penlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.

Hal pengabulan doa ( Matius 7:7-11)
7. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan Setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibuka kan.
9. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anakn ya, jika ia meminta roti, .
10. atau membe ri ular, jika ia meminta ikan?
11. Jadi jika kamu yang jahat tahu memb eri pemberian yang baik kepada anak-a nakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.”

Merah adalah aku, putih adalah aku. merah putih adalah aku.

Dikutip dari Tulisan dinding di Facebook
Ben Bernard Wae Wis.
Tanggal 23 Februari 2010 jam 19:22

Merah adalah aku, putih adalah aku. merah putih adalah aku.
Merah putih yang terpikir adalah bendera negeri ini yang banyak banyak di sebut sebagai yang saka merah putih.
Pada masa majapahit merah putih sudah digunakan sebagai panji panji kerajaan yang terinspirasi oleh pohon kelapa, pohon yang biasa biasa namun seluruh bagianya bisa dimanfaatkan. merah adalah warna gula kelapa yang diolah dari nira putih adalah daging kelapa dan masa itu orang majapahit sering menyebut merah putih sebagai Gulo Klopo. ( Menurut LKH salam Gajah Mada. Sekarang ini teman-teman pencinta Majapahit sering menggunakan salam ” Gulo Klopo “.
Ayu Utami mengatakan ( dalam Bilangan Fu – nya ), merah putih adalah warna mistis pulau jawa.
Warna merah putih juga digunakan oleh Kerajaan Mataram Islam sebagai warna layar perahu mereka waktu penyerangan ke Batavia yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung. Banyak lagi opini tentang merah putih,termasuk lagu Gebyar- Gebyar ciptaan Gombloh.
Bagi saya merah putih tak hanya warna bendera ataupun warna tulang dan darah manusia. Merah putih adalah benih terciptanya manusia. Manusia lahir dari manusia. Warna merah adalah benih dari perempuan yang adalah ibu. Putih adalah benih dari laki-laki yang adalah ayah. Saya punya keyakinan seluruh manusia tidak akan ada yang mengatakan warna benih dari laki-laki berwana lain selain putih.
merah putih bukan hanya lambang, warna bendera negeri ini, tetapi merah putih adalah warna, lambang setiap manusia apapun warna benderanya apapun warna kulitnya. karena itu merah putih adalah aku, merah putih adalah manusia.