SIAPA PENULISNYA
Kitab Suci=Buku Suci
Apanya yang suci?
Wujudnya kah?
Bagiku sebuah kitab atau buku disebut suci atau dianggap suci karena isinya yang yang ditulis dengan niatan suci untuk menuntun pembacanya kepada arah kehidupan yang suci.
Membaca dan menganalisis Injil dan Al Quran berdasarkan pengetahuan dan ilmu sastra tentunya akan melihat dari sisi Intrinsik dan Ektrinsik
Unsur Intrisik
1. Tema,
2. Alur,
3. Penokohan,
4. Setting,
5. Amanat,
6. Sudut Pandang
Unsur Ektrinsik
Analisis Ekstrinsik akan melihat dari luar karya sastra dalam hal ini tentunya Injil dan Al Quran. Adapun unsur ekstrinsik meliputi: latar belakang pengarang, sosial, ekonomi, budaya pada saat karya itu ditulis.
Dalam tulisan ini akan menguraikan analisis Injil berdasarkan Sudut Pandang pengarang.
Adapun sudut pandang adalah: Pengarang sebagai orang pertama dan Pengarang sebagai orang ketiga.
Dalam Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) semuanya mengunakan sudut pandang orang ketiga yang artinya pengarang hanya sebagai pengamat dan membiarkan saja tokoh ceritanya berjalan dan berkembang sendiri.Penarang injil menceritakan apa yang dialami seperti apa yang dia lihat dan apa yang dia pahami, bahkan penulis Injil mengahiri ceritanya dengan membiarkan tokoh ceritanya terbunuh dan berakhir dengan kesedihan. Injil ditulis tentunya juga berdasarkan latar belakang pengarangnya, juga keadan sosial, ekonomi, budaya pada saat karya itu ditulis. Meskipun mungkin penulis menggunakan nama samaran alias bukan nama sebenarnya
Dalam Al Quran penulis cerita mengunakan sudut pandang orang pertama dengan menggunakan kata Aku. Sehingga Pengarang atau Penulis Al Quran dapat menjadi TUHAN dalam rangkaian ceritanya dengan menggunakan kata “Aku” yang ditekankan sehingga hampir semua kata-kata seolah-olah berasal dari Tuhan, dengan kata lain penulismya mengangkat dirinya menjadi Tuhan, dan menjadikan ceritanya adalah “Gedhebuuuuuk” sesuatu yang turun dari langit.
Jadi siapakah penulis Al Quran?
Tuhankah dia si Tuan Anymous ini?
Tuhankah dia si Mr X ini?
Atau mengaku-ngaku tuhan?
Siapakah Si Tuan Anymous Penulis Al Quran?
Siapakah Si Mr X Penulis Al Quran?
Memang Tuhan itu sesuatu yang tidak nampak oleh mata karena bersifat roh.
APA YA, AL QURAN JATUH GEDHEBHUUUUK DARI LANGIT?
Muhjizatkah ?
Sementara nabi-nabi israel mengalami pergulatan dalam memperoleh Wahyu dan semuanya di alaminya sebagai pengalaman individu dalam suasana kesendirian atau malah mungkin dalam keheningan yang khusuk. Sedangkan penulis cerita hanya sebagai pencerita bukan sebagai Aku seperti Si Tuan Anymous Penulis Al Quran.
Yang dialami Yakub dalam kitab kejadian.
Disini penulis menggunakan sudut pandang orang ke tiga. Penulis hanya menceritakan, penulis tidak terlibat dalam kejadian.
Yakub yang ketika dia sedang berbaring, seorang lelaki mendatangi dia dan bergulatlah mereka hingga pagi. Menjelang fajar, lelaki itu memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga ia terpelecok, Maka Yakub meminta lelaki itu memberkati dia sebelum pergi karena hari telah pagi.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu kepada Yakub
“Yakub”
“Sejak sekarang namamu adalah Israel.”
Yakub balik bertanya. “Katakan juga siapa namamu”
Yang ditanya menyahut. “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Setelah itu ia memberkati Yakub. Orang itu pergi tanpa menyebutkan namanya.
Yakub merumuskan, “Aku telah melihat Allah, muka dengan muka, tapi nyawaku diselamatkan.
Melihat kontek Allah dalam pengalaman dan Rumusan Yakub, apakah sama dengan Allah dalam dalam rumusan Yesus yang menyatakan dirinya sebagai Anak Allah dalam Injil?
Apakah Allah yang sama dengan rumusan penulis Al Quran yang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam penulisan ceritanya?
Yang Menjadikan dirinya Allah dengan menekankan kata aku dalam penulisan ceritanya?
Yaitu Si Tuan Animous. Yaitu Si Mr X
Hey..Hey Siapa dia?
Bila dalam blog seperti : http://vilaputih.wordpress.com/,
http://filarbiru.wordpress.com/, http://haniifah.wordpress.com
mempertanyakan dan mempersoalkan keimanan orang kristen yang mengakui bahwa, Yesus sebagai Nabinya yang menganggap Anak Allah, dengan kitabnya Injil. Kenapa mereka tidak bertanya dan mempersoalkan Hey..Hey..Siapa Dia Situan Anymous? Yang menulis Al Quran dan mendoktrin Mohammad yang tidak dapat membaca.
Bacalah…Bacalah…dan bacalah….
Hal ini berbeda dengan aku.
Sebab Aku Orang Merdeka.
Kenapa?
Hukum Taurat tidak berlaku bagiku
Hukum Injil Tidak berlaku bagiku
Hukum Al Quran tidak berlaku bagiku.
Hukum Weda tidak berlaku bagiku
Hukum Tripitaka tidak berlaku bagiku,
sebab aku bukan hamba dari salah satunya.
Hukum dan kitabku adalah hati nurani.
Apakah perbuatan baik akan bertentangan dengan hukum. Hukum Tidak akan membatasi, dan melarang manusia berbuat baik. Demkian juga dengan hukum Tuhan, Hukum Alam, Hukum Adat. Sebab memang semestinya hukum itu diciptakan untuk kebaikan manusia, alam, lingkungan agar senantiasa aman dan damai dengan demikian selamatlah manusia, alam dari kehancuran.
Tuhan memang tidak beranak kayak Manusia, kambing, apalagi bertelur kayak itik, bebek, juga mentok.
Hanya Adam yang diciptakan Tuhan lewat sabda atau firman.
Karena yang selanjutnya daging adalah daging, (daging berwujud ketikan bapak dan ibu bersenggama sehingga sel jantan bersatu dengna sel telur tapi kehidupan berasal dari Roh yang ditiupkan Allah. Karena itu Roh adalah Roh.
Daging tanpa Roh adalah mayat. Roh tanpa daging tetaplah Roh.
Bila apa yang diajarkan Yesus dianggap penyelewengan akan hukum dan kitab-kitab dan nabi nabi sebelumnya. Mungkin memang seperti itu secara hurufiah. Tetapi Yesuslah yang menguak metafora yang diajarkan oleh para nabi sebelumnya. Sehingga Paulus berani mengatakan dalam suratnya kepada umat di Roma HUKUM TAURAT DAN SUNAT TIDAK MENYELAMATKAN ORANG YAHUDI
UNTUK YANG SENANG MENGATAKAN BAHWA YESUS MENYELEWENGKAN AJARAN PARA NABI, DAN MENGANGGAP DIRINYA PALING BENAR
BACA SURAT PAULUS KEPADA ROMA
E….BACANYA YANG BENER YA. NGGAK USAH KEBURU-BURU NGGAK ADA YANG MAU NGREBUTKOK. LAGIAN KALAU KEBURU-BURU ENGGAK ENAK KOK. ENTAR KAYAK ORANG EJAKULASI DINI HE…HE…HE…
Untuk Yang mengatakan bahwa penulis injil adalah plagiator. Tuh masih mending yang di plagiat milik seniornya yang se bangsa dan se tanah Air.
Paling Ga Lucu You yang benci ama Yahudi Bin Israel memplagiat tulisan dari bangsa yang kamu benci. Anymous lagi.
Yang lebih parah si tuan Anymous atau si Mr X ini mengaku tuhan dengan menekankan kata aku pada setiap tindakan dan penyampaian wahyu sehingga menjadikan seolah-olah perkataan itulah wahyu dari tuhan lalu mengatakan bahwa yang diajarkan Yesus adalah penyelewengan. (Ternyata Tuhan Arab pandai berpolitik juga untuk memperoleh kehormatannya). Apakah hal ini ada karena dari waktu kewaktu keturunan Ishak memang memiliki kenyataan yang lebih daripada keturuan Ismael.
Abraham mengusir Hagar dan Ismael
Kitab Kejadian 21:8-21
8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu gagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 10 berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.’’ 11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham:
"Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadama, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dan Ishak. 13 Terapi keturunan dan hambamu itu juga akan Kubuatr menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”
14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang garan bersyeba. 5 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati.’’ Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
17 Allah medengar suara anak itu. lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, KataNya kepadanya:
‘‘Apakah yang engkau susahkan, Hagar? janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak dari tempat ia terbaring. 18 Bangnnlah. angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. "19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirhatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21 Maka tinggallah in di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
Apa yang diinginkan dan Sarah adalah keinginan seorang ibu agar anaknya mendapatkan warisan dan kemulyaan duniawi. (Yang akhirnya dalam injil disebut keinginan daging). Sara takut bila Ismail bertambah besar dan menjadi Pewaris, Hagar akan semakin merendahkan dirinya. Abraham secara manusiawi pasti sangat ingin menolak keinginan Sara, tetapi seperti dalam cerita, Allah menyetujui permintaan Sara.
Bacalah!!!!!
Aku tidak bisa Membaca
Bacalah!!!!!
Kutipan di bawah ini!!!!!
Dikutib dari Novel “BILANGAN FU” karya Ayu Utami
KRITIK HU ATAS MONOTEISME
[CATATAN-CATATAN PENDEK DARI buku harian Parang Jati]
Saya tulis ini setelah rumah Pak Lamardi dilempari batu hingga berantakan. Ia dan keluarganya mengungsi ke tempat kami. Itu adalah kali pertama saya mendengar serangan terhadap orang Ahmadiyah.
Setelah prihatin, reaksi pertama saya adalah bertanya-tanya.
Kenapa monoteisme begitu tidak tahan pada perbedaan?
Kecenderungan ini begitu kuat pada agama-agama Semit, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Selain tampak pada perilaku para penganutnya, terdapat pula dalil-dalil yang membenarkan hujatan dan tindakan untuk meniadakan yang lain. Perilaku para penganut selalu bisa dipolitisir. Tapi bahwa ada dalil-dalil yang mendasari sikap anti terhadap nilai lain (“anti-liyan”), itu saya kira harus diakui sebagai persoalan mendasar monoteisme. Kita harus berani mengakui bahwa monoteisme berkehendak memonopoli kebenaran, dan tak tahan pada kebenaran-kebenaran lain.
Kehadiran dalil-dalil “anti-liyan” sangat mencolok dalam monoteisme, terutama jika dibandingkan dengan agama-agama timur. Yakni, agama-agama yang muncul di benua Asia Tengah ke Timur, seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Shinto, dan agama-agama lokal di wilayah ini. Agama-agama ini memiliki sistem yang sangat berbeda dan monoteisme, yang sangat sulit dimengerti oleh kaum monoteis medok.
Dan perbedaan mendasar itu, rupa-rupanya, terdapat pada bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing. Agama-agama timur sangat menekankan konsep ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. Konsep ini ada dalam kata sunyi, sunyat, shunya. Konsep ini ada pada bilangan nol.
Sebaliknya, monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah SATU.
Persoalannya, sesungguhnya ada pertanyaan besar: apakah ketika mereka merumuskan itu manusia sudah menemukan bilangan nol? Apakah konsep nol sudah ada ketika manusia mencatat wahyu bahwa tuhan itu satu?
Saya kira perkara ini menjadi sangat penting. Sebab, tanpa ada bilangan nol, tanpa ada pengertian mengenai nol, ceritanya menjadi sangat lain. Bilangan satu yang dirumuskan dengan perbandingan terhadap nol sangat berbeda nilainya dan yang dirumuskan tanpa perbandingan dengan nol.
SEJARAH BILANGAN NOL
(diringkas daRI buku Misteri Bilangan, karangan Ninkaou Niala Kram.)
I
LEGENDA TENTANG SUNGAI YANG BERHENTI MENGALIR DI HARI SABBAT
Nun di sebuah tempat di India, ada sbuah sungai bernama Sabbaton. Di seberangnya menetap SEPULUH SUKU ISRAEL YANG HILANG dan akhir Masa Pembuangan di abad ke-6 sebelum masehi. Konon, sampai sekarang (yakni sampai legenda mi diceritakan) kesepuluh suku Israel itu masih tinggal di sana. Sungai ini diberi nama Sabbaton, sebab ia mengalir selarna enam hari saja. Pada hari Sabbat sungai ini berhenti mengalir.
Seorang musafir Yahudi bernama Manasseh ben Israel melakukan perjalanan ke India pada tahun 1630 dan melaporkan bahwa ia melihat sungai itu: yang mengangkut gelondong batu sebesar rumah di hari-hari kerja, namun kering dan licin bagai pasir putih di hari Sabbat. Sabbat adalah hari ketujuh. Hari, yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian, ketika Tuhan beristirahat dan mencipta kehidupan.
Adakah legenda ini bercerita mengenai kontak antara orang-orang Semit dengan orang-orang India?
Kita memiliki tanda-tandanya dalam kemiripan bunyi dan kata:
Sabbat adalah hari ketujuh dalam kalender Hibrani. Sapta adalah tujuh dalam bahasa Sansekerta.
Ehad, ahad, adalah satu dalam bahasa Hibrani dan Arab yang sama-sama berinduk Semit. Eka adalah satu dalam Sansekerta. Esa, dalam Tuhan yang Maha Esa.
II
Diduga, setelah kontak dengan bangsa Semit, orang-orang India menggunakan aksara Semit untuk menulis angka mereka.
Ketika itu bilangan nol belum ditemukan.
Demikian pula, posisi numerasi belum ditemukan. Posisi numerasi adalah cara menulis angka berdasarkan urutan nilai kelipatan sepuluh seperti yang kita kenal sekarang. Kita menganggapnya begitu gampang. Tapi tidak demikian sebelum orang menemukan posisi numerasi. Pada masa itu orang tidak menulis dua ribu delapan dengan “2008”, melainkan dengan “2 ribu 8” atau “2000 8”. Seperti MMVIII.
III
Orang India telah memiliki konsep filosofis mengenai kekosongan, ketiadaan, jauh sebelum masehi. Konsep itu ada pada kata shunya. Dan lambangnya adalah: shurzya-kha (yaitu spasi kosong), shunya-bindi (yaitu titik), shunya-chakra lingkaran, 0).
Inilah konsep yang kemudian berkembang menjadi bilangan 0. Bilangan yang ditemukan bersama ditemukannya posisi numerasi.
IV
Adalah seorang ahli perbintangan dan matematika India yang menulis dalam bahasa Sanskerta. Aryabhata namanya. Hidup di abad ke-5 masehi. Seperti Plato dikenal melalui Aristoteles, Aryabhata dikenal melalui komentatornya, Brahmagupta. Brahmagupta menulis kitab astronomi berjudul Brahmasputa Siddhanta, artinya “sistem Brahma yang direvisi”. Di sini, nol dan posisi numerasi telah dipraktikkan, namun belum terbukakan bagi dunia di luar India.
Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang dirumuskan bukan dalam mentalitas matematis, melainkan mentalitas metaforis.
Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang sekaligus memiliki properti nol. Inilah, saya rasa, yang dicari-cari Ayah melalui pendekatan dan lakunya yang sulit dimengerti dalam bilangan hu. Satu yang juga nol.
*
MONOTEISME MERUMUSKAN DIRI
Kitab agama Semit yang paling tua adalah Alkitab Hibrani. Kepada Musa-lah Tuhan pertama kali merumuskan dirinya secara eksplisit sebagai Tuhan yang satu. Satu-satunya Tuhan.
Beginilah berturut-turut Tuhan mewahyukan dirinya dalam Alkitab:
I
KITAB KEJADIAN (GENESJS)
Dalam buku pertama ini pertama kali Tuhan menyebut dirinya, yaitu ketika hendak menciptakan manusia, adalah dengan bentuk jamak. “Kita”. Berikutnya, bentuk jamak “Kita” dan bentuk tunggal “Aku” sama-sama digunakan.
II
Sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, setelah Menara Babel runtuh, tersebutlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai Abraham. Ia keturunan Sem. Sem adalah anak Nuh yang menutupi kelamin ayahnya ketika Nuh mabuk anggur sampai tentidur telanjang. Dua anak yang lain malah tertawa-tawa. Keturunan Sem, anak yang santun itu, disebut orang Semit, bangsa yang menjadi induk penganut monoteisme Semit.
Ketika itu mereka tinggal di Sumeria, di della sungai Eufrat dan Tigris, di sekitar wilayah Irak dan Kuwait sekarang.
Tersebutlah, Tuhan menyuruh Abraham meninggalkan kota Ur-Kasdim untuk pergi ke arah Barat Laut, ke tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Tuhan berjanji akan membuat keturunan Abraham tak terhitung seperti bintang di langit dan debu di tanah. Tibalah Abraham di Kanaan, yaitu wilayah Palestina dan Israel sekarang.
Di kitab ini—Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab—Tuhan belum merumuskan dirinya sebagai Tuhan yang Satu. Kepada Abraham, ia merumuskan dirinya sebagai “Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dan Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Atau, Tuhan dirumuskan sebagai “Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.”“Allah yang Mahakuasa.” Belum ada rumusan Tuhan yang Satu.
III
Abraham memiliki dua anak. Ismael dan Hagar. Ishak dan
Sarah. Diceritakan, anak-anak Ismael menetap di sebelah
Timur Mesir. Sementara itu, Ishak memiliki dua putra kembar:
Esau dan Yakub.
Esau bertubuh kekar serta berbulu. Ia juga gemar berburu. Sedangkan Yakub, lahirnya pun memegangi tumit Esau. Yakub adalah anak lelaki yang suka tinggal di kemah. Sang ayah menyukai Esau yang gagah. Sang ibu mencintai Yakub, si manis pemimpi.
Ketika Ishak sang bapa telah rabun dan hampir meninggal dunia, ia berniat memberikan berkat kesulungan pada Esau. Tapi istrinya mengelabui dia. Ia menghadirkan si bungsu Yakub, mengenakan padanya kulit domba sehingga tangannya terasa berbulu. Ishak pun memberikan hak kesulungan itu pada si bungsu.
Ketika Esau pulang dan berburu di padang, tahulah dia bahwa adiknya telah merebut berkat itu. Maka ia mendendam pada Yakub.
Cemas akan kemarahan abangnya, si bungsu melarikan diri ke MeSopotamia, yaitu di sekitar aliran Eufrat dan Tigris.
Kepada Yakub-lah Tuhan menampakkan diri lagi. Melalui mimpi yang istimewa. Dalam tidurnya, si manis pemimpi Yakub melihat tangga menuju langit. Tampak malaikat-malaikat naik turun di sana. Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai, “Akulah Tuhan, Allah Abraham dan Allah Ishak.” Belum ada rumusan eksplisit tentang keesaan Tuhan seperti kelak dalam wahyu kepada Musa.
Kali kedua Tuhan menampakkan diri lagi kepada Yakub dengan cara yang istimewa pula. Ketika ia sedang berbaring, seorang lelaki mendatangi dia dan bergulatlah mereka hingga pagi. Menjelang fajar, lelaki itu memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga ia terpelecok. Maka, Yakub meminta agar lelaki itu memberkati dia sebelum pergi karena hari telah pagi.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu kepada Yakub.
“Yakub.”
“Sejak sekarang namamu adalah Israel.”
Yakub balik bertanya. “Katakan juga siapa namamu.”
Yang ditanya menyahut. “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Setelah itu ia memberkati Yakub. Orang itu pergi tanpa menyebutkan namanya.
Yakub merumuskan, “Aku telah melihat Allah, muka dengan muka, tapi nyawaku diselamatkan.”
Di kitab ini juga belum ada rumusan tentang Tuhan yang Esa. Tetapi, telah muncul persoalan nama. Manusia ingin mengetahui nama tuhannya. Tapi Tuhan tak mau mengungkapkan namaNya. Persoalan inii akan hadir kembali dalam kisah Musa.
IV KITAB KELUARAN (EXODUS)
Dalam kitab kedua ini, Tuhan menggunakan kata “Aku” sepenuhnya.
Tuhan menampakkan diri kepada Musa. Sebelumnya, telah beberapa generasi lamanya Tuhan tak pernah mewahyukan diri.
Ketika itu keturunan Yakub telah menjadi bani Israel, yaitu orang Hibrani, yang oleh karena kelaparan di negerinya, pindah dan menumpang di Mesir. Tapi, setelah beberapa angkatan, akhirnya kaum imigran Hibrani ini diperbudak oleh para Firaun. Musa tampil sebagai pembebas bani Israel.
Pertama kali, Tuhan menampakkan diri dalam rupa api yang menyala pada semak duri. Ia memperkenalkan diriNya sebagai, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Tuhan mengutus Musa untuk meminta orang Israel bangkit dan pergi dan Mesir. Kembali ke K.anaan.
Bertanyalah Musa, “Jika orang Israel bertanya siapa nama Allah nenek-moyang Israel, bagaimana harus kujawab?”
Firman Tuhan, “Aku adalah Aku.”
Demikian, manusia ingin mengetahui nama tuhannya. Tuhan mengelak mengungkapkan itu. Barangkali, sebab Tuhan tak mau membiarkan dirlNya dipersepsikan berdasarkan kerangka pikir manusia. Pada masa itu Setiap allah di Mesir memiliki nama.
Tuhan menampakkan dirinya berulang kali kepada Musa.
Ketika akhirnya Musa telah membawa bani Israel keluar dan Mesir dan tiba di gunung Sinai, di puncaknya Tuhan memberi kepada Musa dua loh batu yang terkenal itu: Sepuluh Perintah Allah.
Perintah pertamanya berbunyi demikian: “Akulah Tuhan, Allahmu. Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.”
Itulah rumusan eksplisit pertama monoteisme.
Sejak Sepuluh Perintah Allah diturunkan, secara sistematis monoteisme melarang allah-allah yang lain, Sejak itu Tuhan penuh kemarahan jika ada allah-allah lain. Sebelumnya, Tuhan tidak pernah menegasikan eksistensi tuhan lain. Sebelurn Musa, Tuhan merumuskan dirinya secara afirmatif atau positif. Semenjak Musa di gunung Sinai rumusan negatif digunakan. Yaitu, menegasikan yang lain.
Dengan cara baca yang lain: rumusan negatif ini justru menunjukkan posisi persaingan dengan allah-allah lain. Bagi saya, rumusan pertama di semak belukar (“Aku adalah Aku”) jauh lebih menggugah ketimbang rumusan di gunung Sinai (Jangan ada allah selain aku.”) Yang pertama bersifat pernyataan positif. Yang kedua bersifat perintah negatif.
V
Bagaimanapun, monoteisme pertama kali dirumuskan sebelum manusia mengenal bilangan nol.
Di Kanaan Israel menjadi kerajaan besar, yang mencapai puncaknya pada dua raja agung, Daud yang perkasa dan Salomon nan bijak. Setelah itu, kerajaan Israel pelan-pelan keropos.
Nenek-moyang Israel, Yakub, yaitu yang oleh Tuhan dinamai Israel, memiliki duabelas anak. Ya, 12. Keduabelas anak itu menjadi 12 suku Israel.
Ketika kota terakhir Israel dihancurkan oleh Asyiria, di abad ke-6 sebelum masehi, dan 12 suku itu tertinggal dua saja. Yaitu, suku Lewi dan suku Yehuda. Yang terakhir menjadi dasar kata Yahudi.
Sepuluh suku yang lain hilang. Mereka dikenang sebagai SEPULUH SUKU ISRAEL YANG HILANG. Mereka konon pergi ke India dan tinggal di seberang sungai Sabbaton. Yaitu, sungai yang hanya mengalir 6 hari dan beristirahat pada hari Sabbat.Sepuluh yang barangkali menjadi angka.
Dan pembacaan kembali atas dua kitab Monoteis tertua, Genesis dan Exodus—atau Kejadian dan Keluaran—ada beberapa hal yang saya catat:
Satu. Tuhan mengelak mengungkapkan nama.
Dua. Ia menggunakan deskripsi ke-maha-an.
Tiga. Ia menggunakan rumusan afirmatif/positif.
Empat. Ia menggunakan rumusan negatif.
Mengapa Tuhan mengelak mengungkapkan nama?
Sebab pada masa itu setiap allah memiliki nama. Demikian, allah- allah itu terjebak dalam kerangka pikir manusia. Penolakan atas nama adalah penolakan dan jebakan kerangka pikir manusia. Yang penting digaris bawahi: Tuhan mengelak diringkus ke dalam kerangka rasional.
(Tapi Ia juga bukan irasional. Sebab irasional adalah definisi yang dirumuskan berdasarkan kerangka rasional pula. Tuhan mengelak dan kerangka ini.)
*
Kembali pada perumusan dengan bilangan. Monoteisme dirumuskan sebelum bilangan no! dirumuskan
Pertanyaan: seandainya Musa mengenal konsep shunya, atau mengenal nol yang spiritual, akankah dia merumuskan Tuhan sebagai shunya? Yaitu yang kosong sekaligus penuh, tidak berupa, tidak berbatas, tidak berbanding dan maha?
Seandainya dulu bani Israel mengenal shunya, akankah Tuhan merumuskan dirinya sebagai shunya?
*
Penemuan nol adalah revolusi dalam pikiran manusia.
Ketika nol belum ditemukan, sesungguhnya hilangan tidaklah hanya matematis. Ketika nol belum ditemukan, manusia belum membedakan bilangan rasional maupun irasional, primer maupun riil. Ketika itu manusia belum menarik jarak antara dunia dan dirinya, yang obyektif dan yang subyektif. Manusia belum modern. Bumi belum berbentuk dan kosong.
Firman adalah puitis dan di dalamnya bilangan itu metaforis.
Masalahnya bermula ketika shunya menjadi bilangan nol. Shunya yang metaforis dan spiritual menjadi matematis dan rasional.
Bilangan nol dirumuskan kepada dunia monoteis pada abad ke-8. Lebih seabad setelah wahyu monoteis yang terakhir turun. Tapi, setelah itu mental matematis berkuasa atas bilangan. Orang tak bisa lagi melihat kualitas bilangan sebelum dia ditemukan. Yakni, kualitas puitis, metaforis, dan spiritualnya.
Maka mulailah manusia menerapkan yang puitis itu secara matematis, yang spiritual secara rasional. Tuhan, yang sejak dulu mengelak dinamai, kini diningkus ke dalam kerangka pikir manusia. Tuhan, yang mengelak dinamai, kini justru diringkus ke dalam angka.Tiada tempat lagi bagi misteri.
*
Pembacaan ulang tadi penting bagi saya untuk memahami Ayah.
Bilangan hu adalah jalan Ayah untuk mengembalikan dunia yang terbelah kepada dunia yang utuh.
Bilangan HU adalah cara Ayah untuk mengingatkan kembali bahwa rasio telah kelewat berkuasa. Demikian berkuasa ia sehingga bilangan “satu”—esa, yang sesungguhnya memiliki kualitas spiritual shunya—diringkus ke dalam satu yang matematis belaka. Bilangan 1 yang riil, primer, rasional, dan operasional.
Demikianlah mental kaum monoteis setelah dunia menjadi rasional. Tuhan menjadi seperti bilangan 1 yang riil, primer, rasional, operasional.
Bilangan hu adalah jalan Ayah agar manusia bisa melakukan retret, pengunduran diri dari rasionalitas, ke dalam sebuah jeda. Jeda yang memungkinkan mereka untuk mengenali kembali kualitas spiritual pada mental mereka. Melalui perenungan mengenai sebuah bilangan bernama hu. Yaitu, bilangan yang sekaligus memiliki properti nol dan satu. Bilangan mengenai yang esa dan shunya.