Selasa, 19 Juni 2012

SABDO PALON


Sabdo Palon dan Darmagandul
Novel yang ditulis oleh Damar Shasangka
Menguak runtuhnya Majapahit Kerajaan Terbesar Nusantara

Postingan ini bukan bertujuan sebagai iklan untuk memberikan info kepada pembaca akan terbitnya sebuah buku tetapi sebagai dukungan pada penulis yang mau menguak kearifan spiritul jawa yang pada masa itu bahkan hingga kini berusaha dibrangus keberadaannya oleh mereka yang merasa paling tahu akan Allah dan kehendak-Nya
Catatan Pengarang Novel
Keterpurukan Nusantara pada kubangan lumpur fanatisme akibat jerat tentakel doktriner sudah diramalkan jauh-jauh han oleh Dang Hyang Sabda Palon dan Dang Hyang Naya Genggong menjelang keruntuhan Majapahit. Babak-babak penuh tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang disebabkan oleh sentimen kepercayaan terus mendominasi semenjak hilangnya agama Budi dan ranah kesadaran manusia Nusantara.
Agama Budi yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Dang Hyang Sabda Palon di depan Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V menjelang keruntuhan Majapahit hanya tertulis dua kali pada Sêrat Sabda Palon, yaitupada’ keempat dan keenam:
Kiawan Paduka Sang Nata/ Wangsul maring sunyaruri/ Mung kula matur petungna/ Jug benjang sakpungkur mami! Yen wus prapta kang wanci/ Jangkep gangsal atus taun/ Wit lug dintên punika/ Kula gantos kang agami/ Gama Budi sun sébar ing tanah Jawa. Dengan Paduka, wahai Sang Raja/ Kembali ke sunyaruri
Hanya saya menghaturkan pesan agar Paduka menghitung/ Kelak sepeninggal hamba! Apabila sudah datang waktunya/ Genap lima ratus tahun! Mulai han mu Akan saya ganti agama (di Jawa)! Agarna Budi akan saya sebarkan di tanah Jawa.
Ngidul ngilen purugira/ Ngganda banger ingkang warih/Nggih punika wCkdal kula/ Wus nyChar agama Budi/MCrapijanji rnami/AnggCrCngjagatsatuhu/ Karsanireng Jawata/ Sadaya gilir gunlanti/ Boten keuging kalamunta kaowahan.
Ke arah selatan barat rnengalirnya/ Berbau busuk air Iaharnya/ Itulah waktu saya/ Sudah mulai rnenyebarkan agama Budi! Merapijanji saya/ Menggelegar seluruhjagat! Kehendak Tuhan/ (Karena) segalanya (pasti akan) berganti/Tidak mungkin diubah lagi.
Dalarn Bahasa Sanskerta, kata buddhi berarti untuk mengetahui. Kata buddhi adalah kata benda feminim yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan, kebijaksanaan, atau akal. Namun dalam penerapannya, buddhi cenderiing digunakan untuk merujuk pada kesadaran spiritual. Sedangkan kata buddha berarti mereka yang sadar, yang mencapai pencerahan sejati. Para pengikut agama Budha Mahayana mempercayai mereka akan lahir di Surga Barat untuk menunggu Budha Amitabha membabar khotbah Dhamma dan akan memimpin mereka ke tahap mencapai “Buddhi”, tahap kesejatian di mana kebencian dan ketamakan akan dilampaui.
anaih .fanair uparamed buddhyd dhti-grhitaya, Atma-samstham manah krtva na kiñcid api cintayed.


Dengan berpegang pada buddhi, dia harus mampu mencapai ketenangan sedikit demi sedikit dengan menambatkan manah (pikiran) pada atman (roh) dan tidak terbelenggu apa pun lainnya.
—Bhagavad Gita: 6:25
Kata huddhi inilah yang lantas diserap dalam Bahasa Jawa Kawi (Bahasa Jawa kuno yang banyak menyerap kosakata Bahasa SanSkerta) dan cenderung diterjemahkan dengan arti kesadaran:
Hana pwa sira wenang maninggalaken krodha, maka sãsdhnang ksãma, kadi kramariing ulan tinggalaken limungsunganya, ri kapwa tan waluyakena muwah, ika sang niangkana sira tika niahabuddhi ngaranira manggeh sinanggah wwang.

Bila terdapat manusia yang mampu meninggalkan kemarahan dengan kesabaran, bagaikan ular yang meninggalkan kulitnya dan tidak akan kembali lagi yang telah ditinggalkannya tersebut, maka manusia yang demikian patut disebut berkesadaran agung dan patut disebut manusia sejati.
—Lontar Sarasarnusycaya: 95
Dalam Bahasa Jawa sekarang, kata buddhi telah mengalami depresiasi huruf menjadi budi. Maknanya pun sedikit bergeser: dari yang semula mengacu pada kesadaran spiritual lalu berubah menjadi pikiran, nalar, watak, polah arep oncat.2 Lalu berkermbanglah istilah budi pakêrti. Pakêrti bermakna panggawe (perbuatan). Budi pakarti berarti wawatakan (watak).3
Sedangkan kata budi pada Kamus Bahasa Indonesia berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. Dan menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi adalah suatu alat batin, paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.
Lantas apa yang dimaksudkan oleh Dang Hyang Sabda Palon dan Dang Hyang Naya Genggong dengan agama Budi tersebut?
Yang tak kalah penting adalah pertanyaan siapakah Dang Hyang Sabda Palon dan Dang Hyang Naya Genggong itu?
Keterpolaan yang sangat intens untuk memaknai segala naskah sastra kuno sebatas mitos dan khayalan sering membuat kita lupa menangkap pesan-pesan riil yang sebenarnya sangat terhubung dengan fakta kehidupan kita sehari-hari. Kearifan leluhur Nusantara yang gemar membalut fakta krusial sejarah dengan berbagai cerita simbolik kadang membuat para pemikir modern bersikap apriori terlebih dahulu sebelum benar-benar memahami pesan apa yang tengah disajikan di sana. Generasi yang terlalu mengagungkan rasionalitas sering kali terjebak pada pendekatan literal untuk memahami segala pesan di masa lalu. Dan di tengah keterjebakan tersebut, mereka malah menertawai generasi masa lalu yang mereka anggap konyol. Pada gilirannya, mutiara berharga yang tersimpan - rapi pada kotak-kotak mitos lewat begitu saja dan pengetahuan mereka.
Pencitraan primordial kepada manusia Nusantara sebagai kaum “irasional” dan “animis”—yang sudah dilekatkan oleh sebagian golongan sebelum masuknya Islam dan semakin marak pada penghujung keruntuhan Majapahit—semakin terbangun oleh ulah para pengamat modern tanpa sengaja. Dua kutub dengan kepentingan berbeda ini saling berperan dalam menenggelamkan segala fakta penting sejarah ke dalam lubang masa lalu. Rasionalitas yang berbalut analogi tidak bisa dipahami oleh mereka yang pola pikirnya terstruktur secara literal. Di sisi lain, kesadaran masa lalu yang ternyata lebih berperan dalam menciptakan integrasi kuat di tengah pluralitas anak bangsa sengaja dibenamkan demi tujuan tertentu suatu golongan.
Kini di tengah keterpurukan multidimensional bangsa sudah saatnya kita menengok sejarah masa lalu untuk menyusun keping-keping puzzle satu demi satu. Walau ada beberapa bagian puzzle yang terselip karena sengaja disembunyikan atau diberangus, maka penyusunan kembali tersebut mutlak diperlukan. Tanpa itu, mustahil kita bisa melihat titik penyebab keterpurukan kita. Oleh karenanya, sikap apriori para pengamat modern pada naskah-naskah kuno sudah selayaknya kini dikesampingkan. Membangun kesadaran sebagian golongan saudara kita yang terjerat pola pikir fanatis pun harus dimulai saat ini juga. Banyak mutiara luhur yang layak diangkat demi kembali memperkokoh fondasi kebangsaan kita yang sudah teramat rapuh karena kehilangan kearifan dan jati dirinya sendiri. Kita tidak bisa membangun fondasi kebangsaan kita dengan bahan-bahan impor. Kita harus membangunnya dengan bahan asli peninggalan Nusantara itu sendiri. Tengoklah negeri tetangga kita yang bisa kokoh menghadapi gempuran modernitas. Mereka menggunakan pola konstruksi jati diri asli dari bangsa mereka sendiri.
Mutiara kesadaran Nusantara masa lalu tersebut terangkum apik dalam slogan Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa yang ditulis dalam Kakawin Sutasoma oleh Empu Tantular. Sebuah jimat berharga yang telah kita campakkan. Kesemrawutan tata sosial hingga menciptakan krisis multidimensional pada dekade terakhir ini disebabkan kita bersikap terhampau arogan dengan menganggap segala hal yang berbau Nusantara asli adalah tidak perlu dan sudah habis masa gunanya. Pengeroposan kesadaran ini sudah berlangsung semenjak Majapahit runtuh.
Kebangkitan kembahi kesadaran untuk saling menghargai pluralitas anak bangsa serta kesadaran untuk menginsyafi bahwa segala keyakinan dan agama hanya sebatas tangga-tangga indah berwarna-warni yang bermuana pada satu tujuan tunggal itulah yang dimaksudkan dengan agama Budi. Dengan kata lain, agama Budi adalah sistem kesadaran yang dewasa untuk menyikapi kebinekaan yang ada. Juga bisa diartikan, beragama Budi beranti kembali untuk menyelami intisari ajaran agama yang berdasarkan Maitri, Metta, Kasih, atau rahmatan lii ‘alamin.
Agama Siwa dan Budha dulu saling menghidupi sedemikian harmonisnya. Bahkan lantas muncul sinkretisme antara dua ajaran itu dan disebut Agama Siwa Budha. Menjelang Majapahit runtuh, ajaran sinkretis ini diingat oleh masyarakat Jawa sebagai sebuah kenangan indah dengan nama Agama Buda (Baca: Agorno Budo; huruf “o” diucapkan seperti “o” dalam kata “sosok”). Pengikutnya disebut Wong Jawa Buda (Baca: Wong Jowo Budo). Nuansa sinkretis seperti ini bukanlah hal tabu di antara dua ajaran tersebut, baik agama Siwa maupun agama Budha. Namun, bukan pola sinkretis semacam ini yang harus dikembangkan ke depan. Keharmonisan dan kesadaran saling menghargai, itulah yang mutlak diangkat ke permukaan.
Novel sejarah ini sengaja saya tulis bertujuan untuk merangkai puzzle-puzzle masa lalu yang terserak maupun bagian yang sengaja disembunyikan. Ketidaksetujuan terhadap beberapa bagian dan novel ini pasti akan muncul. Namun, mau tidak mau, jika kita ingin berubah, penulisan semacam ini mutlak dilakukan. Bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun sekadar memberikan gambaran kronologis keterjerembapan awal kita pada kubangan keterpurukan semenjak tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi hingga sekarang, yang banyak disembunyikan selama ini. Sikap dewasa sangat diperlukan. Arogansi harus dibuang jauh-jauh. Kita bukan lagi kanak-kanak yang harus selalu menghindar dari kritik. Jika memang ada babak masa lalu dan kita yang salah, sudah seharusnya kita pelajari agar tidak terulang lagi di kemudian hari, bukannya malah ditutup-tutupi dan dipoles dengan segala macam pembelokan sejarah.
Selain itu,  novel ini saya tulis untuk sekedar memberi informasi siapakah Dang Hyang Sabda Palon dan Dang Hyang Naya Genggong sesuai “wacana gaib” Nusantara yang sesungguhnva. Walau mungkin, karena tuntutan jalannya cerita yang mesti terintegrasi secara kronologis, maka pertanyaan di atas baru akan terjawab secara utuh pada lanjutan dan buku ini.
Lanjutan




Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Semoga usaha saya ini bisa memicu tulisan-tulisan serupa yang mengangkat Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, yang merupakan slogan utama agama Budi.
Bumi Singasari, Saniscara Pon Panglong 15 Wuku Gumbrég Margasira 1932 Saka/6 November 2010 Masehi
Dhamar Shashangka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar